Antrean Pertalite di SPBU 24.345.107 Berujung Keributan, Pengendara dan Oknum Petugas Terlibat Perkelahian

Infolampung.net | Tulang Bawang – Pelayanan pengisian BBM di SPBU 24.345.107 yang berlokasi di Jalan Lintas Timur, kawasan Terminal Menggala, menjadi sorotan setelah persoalan antrean berujung pada keributan antara seorang pengendara sepeda motor bernama Angga dan petugas nozzle bernama Alif , Sabtu (15/8/26).

Peristiwa tersebut bermula ketika Angga mengantre untuk mendapatkan BBM jenis Pertalite. Setelah menunggu sekitar 40 menit, kendaraan Angga akhirnya berada di posisi depan dan telah didorong mendekati nozzle pengisian. Namun, ketika tiba waktunya mengisi BBM, petugas SPBU bernama Alif justru melayani sebuah mobil yang berada di antrean sebelah kiri mesin nozzle. Melihat kondisi tersebut, Angga kemudian mempertanyakan mengapa dirinya belum dilayani, padahal merasa sudah tiba pada gilirannya.

Menurut kronologi yang disampaikan Angga, petugas bersama pemilik kendaraan yang sedang mengisi BBM memberikan penjelasan bahwa pola pelayanan saat itu menerapkan aturan satu mobil terlebih dahulu, kemudian enam sepeda motor. Angga pun menerima penjelasan tersebut dan memilih tetap menunggu hingga mobil yang sedang dilayani selesai mengisi BBM.

Namun, setelah kendaraan tersebut meninggalkan area pengisian, Angga justru melihat mobil lain yang berada di belakangnya kembali maju dan dilayani oleh petugas. Kondisi itu membuat Angga kembali mempertanyakan aturan antrean yang sebelumnya telah dijelaskan kepadanya, sebab setelah satu mobil selesai, kendaraan roda empat lainnya kembali didahulukan sebelum sejumlah sepeda motor mendapatkan giliran.

Menanggapi pertanyaan tersebut, petugas nozzle kemudian menjelaskan bahwa pola pelayanan telah diubah menjadi satu mobil dan tiga sepeda motor. Menurut penjelasan yang diterima Angga, perubahan itu dilakukan karena apabila menerapkan pola satu mobil dan enam sepeda motor, antrean kendaraan roda empat akan menjadi terlalu panjang.

Setelah mendapatkan penjelasan tersebut, Angga kembali menunggu hingga kendaraannya mendapatkan giliran pengisian. Saat proses pengisian berlangsung, Angga kemudian menyampaikan keberatan sekaligus memberikan masukan kepada petugas mengenai perubahan pola antrean yang dinilainya tidak konsisten, dari sebelumnya satu mobil enam sepeda motor kemudian berubah menjadi satu mobil tiga sepeda motor.

Menurut keterangan Angga, penyampaian tersebut justru membuat situasi memanas. Petugas nozzle disebut tidak menerima masukan yang disampaikan hingga kemudian terjadi tindakan pemukulan menggunakan tangan ke bagian wajah Angga, tepatnya di sekitar area mata.

Merasa mendapatkan serangan dan berada dalam situasi yang dianggap mengancam keselamatannya, Angga kemudian melakukan pembelaan diri dengan memukul balik petugas tersebut. Peristiwa yang awalnya bermula dari persoalan antrean BBM itu pun akhirnya berkembang menjadi perkelahian di area SPBU.

Sistem Antrean dan Penggunaan Nozzle Turut Dipertanyakan

Di luar persoalan perkelahian, kejadian tersebut juga menyoroti sistem pelayanan pengisian BBM ketika antrean kendaraan sedang padat. Pasalnya, mesin pengisian yang memiliki dua nozzle disebut hanya beroperasi menggunakan satu nozzle dalam pelayanan, sementara antrean kendaraan mengular dari kedua sisi mesin. Di satu sisi terdapat puluhan sepeda motor, sedangkan di sisi lainnya antrean kendaraan roda empat juga terlihat memanjang.

Kondisi tersebut dinilai dapat menimbulkan kebingungan bagi konsumen apabila tidak disertai sistem antrean yang jelas, konsisten, dan dipahami seluruh pengendara. Terlebih, ketika masyarakat telah menunggu dalam waktu cukup lama, perubahan pola pelayanan di tengah antrean berpotensi memunculkan pertanyaan mengenai kepastian urutan pengisian.

Dalam kejadian tersebut, Angga juga menyebut adanya kendaraan yang mengisi BBM hingga sekitar Rp500 ribu dan memberikan uang Rp10 ribu kepada petugas nozzle untuk jasa pengecoran. Namun, informasi tersebut masih merupakan keterangan dari Angga dan perlu diklarifikasi kepada pihak SPBU maupun pihak terkait agar tidak menimbulkan kesimpulan sepihak.

Peristiwa ini pada akhirnya tidak hanya menyangkut perselisihan antara konsumen dan petugas, tetapi juga membuka pertanyaan mengenai standar pelayanan, transparansi sistem antrean, konsistensi pola pengisian, serta optimalisasi penggunaan dua nozzle ketika volume kendaraan sedang tinggi.

Pihak SPBU diharapkan dapat memberikan penjelasan mengenai standar antrean yang sebenarnya berlaku, alasan perubahan pola pelayanan dari satu mobil enam sepeda motor menjadi satu mobil tiga sepeda motor, penggunaan dua nozzle, serta langkah evaluasi yang akan dilakukan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

Sebab, bagi masyarakat yang telah mengantre, persoalannya sederhana , setelah menunggu puluhan menit dan tiba pada waktunya dilayani, konsumen tentu mengharapkan pelayanan yang tertib, adil, transparan, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kejelasan sistem antrean bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga penting untuk mencegah kesalahpahaman yang pada akhirnya dapat memicu konflik di tengah masyarakat.

Hingga berita ini diterbitkan, Pihak yang disebut masih dalam upaya konfirmasi dan belum diperoleh keterangan resmi dari pihak terkait.

(Nando)

Nantikan berita selanjutnya. Media ini akan menelusuri lebih dalam dugaan praktik pengecoran BBM menggunakan kendaraan roda empat, baik Pertalite maupun Solar, yang diduga dilakukan oleh sejumlah oknum di area pengisian.

Penelusuran ini akan diarahkan pada dugaan adanya kendaraan yang dalam satu kali berada di depan nozzle dapat melakukan pemindaian (scan) barcode pengisian berulang kali, sehingga satu kendaraan diduga mampu melakukan beberapa kali transaksi pengisian dalam satu kesempatan.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, bahkan terdapat dugaan satu kendaraan dapat melakukan hingga lima kali pemindaian barcode dalam satu rangkaian pengisian di depan nozzle.

Apakah sistem tersebut memang diperbolehkan? Bagaimana mekanisme pencatatan transaksi dan pengawasan terhadap pengisian berulang menggunakan kendaraan yang sama? Serta siapa saja yang mengetahui dan bertanggung jawab terhadap praktik tersebut?

Semua fakta akan kami telusuri dan konfirmasi. Nantikan berita selanjutnya, karena tabir dugaan pengecoran BBM menggunakan kendaraan roda empat akan kami buka berdasarkan data, fakta, dan keterangan dari pihak-pihak terkait.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *